Posts filed under 'Ayo Makan'
Ah, senangnya dapat kembali ke tempat dimana kita dibesarkan biarpun untuk beberapa hari saja. Ternyata kota yang sudah lama saya tinggalkan ini (baca 9 tahun-biarpun tiap lebaran pulang) sudah banyak berubah. Sekarang Surabaya jadi kota yang macet dan berisik. Tapi untunglah tinggal di daerah yang tidak terlalu ramai membuat saya menikmati enaknya kota pahlawan ini.
Apa yang bikin kangen dari Surabaya. Tentu saja makanannya. Tiada makanan yang seenak di Surabaya. Dari Nasi bebek (yang sekarang heboh di jakarta) sampai dengan suasa malamnya yang antik dan unik. Jalan-jalan di Surabaya mengenang kisah hidup yang telah lalu (alaaahh…) memang menyenangkan. Orangnya-orangnya ramah dan welcome.
Ada beberapa list makanan yang pengen saya makan. Antara lain: Kupang Lontong, Nasi Sambel, Semanggi Suroboyo ( hey.. semanggi itu pecel asli surabaya- bukan Jakarta), Kue Perut Ayam, dan beberapa kue tradisional lainnya. Hahaha.. bersa kembali ke jaman saya masih meler dan lari kesana-kemari pakai celana kolor doang.
Biarlah beberapa hari ini saya menikmati suasana dan makanan asli Surabaya.
Surabaya oh Surabaya..
Berbagi
Berbagi
August 8th, 2008
Ah, kemarin saya diajakin sahabat baik saya untuk sedikit berpesta. Menyambut promosi dia sebagai seorang MGR katanya. Alhamdulillah, seneng juga liat dia sukses. Tujuan awal kita tentu saja Makan.. makan dan makan! (hehehe…). Pilihan kita jatuh ke ayam taliwang! (horeee……)
Setelah menembus kepadatan lalu lintas (rabu libur sodara, jadi rame banget). Akhirnya nyampai juga ke daerah Pesanggrahan, Jakarta Barat. Tepat di depan Singapore Internation School dan Mc.Donald, terdapat warung kaki lima yang hampir tertutup oleh banyaknya mobil yang parkir di sana. Nama warung-nya Ayam Taliwang Pak Rosidi. Hmm… membayangkan ayam berbumbu asal Lombok itu sudah cukup membuat air liur saya menetes seperti Stephen Cow melihat cewek cantik di film-filmnya.
Oke, duduk dan pesan makanan seperti biasa: Ayam Bakar Taliwang Pedes + Plencing Kangkung. Sembari menunggu, krupuk rambak bolehlah buat cemilan dulu. Hmm… Tak lama kemudian pesanan kami datang.
Horeee… Nasi anget + Ayam taliwang pedes saya santap langsung dengan kangkung plencingnya. Ups, ada yang aneh. Huah.. kenapa ayam taliwangnya tak sepedas biasanya ya? Huhuhuhu… Sesuap, dua suap, masih saja tidak terasa pedas. Tapi ya sudahlah, ayamnya agak-agak kenyal dikit tapi enak banget. Sampai akhirnya nambah 2 piring nasi. Hehehehe. Di akhir makan, saya berkeringat juga. Pedas, tapi tidak sepedas biasanya yang saya makan. Plencing kangkungnya juga tak sepedas biasanya dengan rasa asem, manis pedes gitu. Enak banget.
Warung ini sangat-sangat direkomendasikan untuk yang suka masakan pedas, cobain ayam taliwang pak rosidi ini. Moga-moga kalau dateng lagi, bisa minta yang lebih pedas lagi.. Yuhuuu…..
Sampai jumpa lagi di warung berikutnya….
Berbagi
Berbagi
July 31st, 2008
Eoseo osipsio. Myeotppunisijiyo?
Geumyeonseogeul wonhasimnikka?
Menyu yeogi isseumnida.
Geureom, bibimbabeul juseyo.
Nah loh, apaan tuh tadi…. hehehehe. Bingung? Itu bahasa Korea. Dan kebetulan tadi malem ulang tahun Pakdhe Arie (horeee….semoga sukses dan sehat terus, amin!), maka kumpul dan makan malam di HAN GANG, sebuah resto korea di bilangan Monginsidi Jakarta Selatan.
Rasanya sih lumayan enak, cuman ya itu tadi.. agak melas buat saya sebagai pembenci daging merah. Hehehe.. tapi yang ada cemilan semacam kimchi, salad, kerang, kentang bisa membuat saya sedikit tersenyum.
Suasana lumayan nyaman, gak bising dan cozy. Harga makanan lumayan bikin kantong lumer. Dan sayangnya gak ada porsi yang cukupan. Artinya saya harus pesen porsi besar untuk sesuatu yang nanti akan saya habiskan sendiri.
Kalbi-Gui (Iga Sapi) mungkin adalah favorit dari semua orang. Ada yang saya heran, kenapa dagingnya lebih cepat mateng daripada resto jepang sejuta umat (Hanamasa). Ya mungkin karena dagingnya import dari amerika. Ironis, disaat Korea protes soal import daging US, justru restoran Korea di Jakarta ini memakai daging dari amerika.
Overall, kalau punya duit lebih… bolehlah makan disini. Tapi kenapa kentangnya kok terlalu manis-asin yaa?
Rating: 3.5/5
Berbagi
Berbagi
July 6th, 2008