Agak sedikit menyesal saya pergi ke Semarang kemarin, bukan karena tidak suka tetapi inilah kali kedua saya pergi ke Semarang tanpa sempat menikmati pesona ibukota propinsi Jawa Tengah yang masyur dengan kulinernya yang nikmat.
Yah, apalagi yang dicari dari sebuah daerah selain kuliner. Terus terang saya bukan pecinta pernak-pernik, jadi ya begitulah saya gak akan mencari benda apapun yang ada di sebuah kota.
Setelah selama 5 jam saya terguncang dalam travel Surabaya - Semarang, akhirnya jam 2.30 pagi saya sampai di hotel tempat-teman menginap, namanya Hotel Pandanaran. Sampai di sana, saya langsung tidur karena besoknya saya harus mengisi sebuah sesi workshop di Telkom Kandatel IV Semarang.
Sore harinya setelah selesai workshop saya harus kembali ke Jakarta, maklum tiket sudah ditangan dan otomatis hanya beberapa jam yang tersisa untuk menyusuri kawasan Simpang Lima Semarang. Perjalanan pertama, saya menuju Plasa Simpan Lima untuk menitipkan travel bag supaya tidak terlalu berat. Murah saja, hanya 1000 rupiah. Rekomendasi kalau bawa barang banyak tapi pengen nyantai, silahkan dititipkan ditempat ini. Ibu-ibu yang jaga ramah kok.
Untuk menghindari ngantuk, saya mampirlah ke warung bule untuk minum teh sembari berpikir akan kemana tujuan kaki ini melangkah menyusuri Simpang Lima. Setelah itu saya berjalan menuju Warung Nasi Liwet. Dalam perjalan, mampirlah ke penjual tahu petis. Argh, akhirnya.. Karena kemaren tidak sempet merasakan tahu petis ala surabaya, saya akhirnya memutuskan untuk membeli beberapa buah, dan kebetulan teman saya juga pengen tahu apa itu tahu petis.
Aneh, gumam teman saya tadi. Ya iyalah, orang priangan jarang memakai petis dalam masakan mereka (atau ada ya?). Biasanya petis ini hanya ditemukan di daerah pesisir, seperti Surabaya tentunya! Kemudian melanjutkan kembali ke warung-warung yang berjejer di seputaran Simpang Lima.
Setelah bingung melihat warung yang berjejer, akhirnya kami memilih sebuah warung yang agak jauhan. Saya pesan nasi pecel, setelah sebelumnya pesen nasi liwet ternyata banyak berisi krecek (huhuhuhu.. saya tidak suka). Teman saya pesan Gudeg (halah), minum es teh manis. Kami makan sembari ngobrol (gak banyak.. soalnya pada sibuk sama makanan - kalau dah soal makan, biar diberondong pelurupun makan jalan terus)
Murah meriah! Saya makan berdua hanya menghabiskan beberapa ribu rupiah (lah kalau seratus ribu?), dan kenyang.. sebelum menuju ke stasiun. Tapi sebelum itu, saya mampir membeli sedikit buah tangan oleh-oleh dari Semarang, yaitu roti Brilliant! Karena menurut saya, bandeng juwono sudah terlalu terkenal jadi gak begitu heboh kalau di bawa ke Jakarta.
Masuk tokonya membuat saya tercengang, banyak banget artist yang udah mampir kesana. Haruskah saya ikut tanda tangan mbak?, tanya saya pada penjaga tokonya. Mereka tertawa. Entah menghina atau karena lucu, yang jelas mungkin tampang saya belom mirip artis.
STASIUN TAWANG
Ini pertama kali saya naik kereta api dari Semarang menuju Jakarta di Stasiun Tawang. Perjalanan dari Simpang Lima ke stasiun terasa biasa saja seperti kota-kota lainnya. Tapi begitu masuk kota tua… arghhh, saya langsung meruntuk dalam hati dan menyesal kenapa tidak lebih lama di Semarang. Suasana kota tuanya begitu arrghhh…. KEREN!!! Melewati gereja Immanuel, terasa saya sedang berada di sebuah set shooting film. Saya membayangkan saat malam hari, suasa di daerah kota lama Semarang diisi oleh pejalan-pejalan kaki yang pengen makan ke restoran atau cafe, pub dengan suasana kolonial. Seru! Seru! Bahkan saya ingin makan di Rumah Makan Cianjur (bukan karena masakannya yang enak… tapi suasanya itu yang dapet! Huhuhuhuhu… ) Tentunya saya akan memilih duduk di balkon kalau ada.. atau dekat jendela.
Tidak berapa lama, taksi yang saya tumpangi sudah masuk ke Stasiun Tawang, stasiun lama peninggalan Belanda. Saya masih harus menunggu 2 jam lagi. Sayang, ruang tunggu-nya bernyamuk. Entah mungkin karena saya manis belum mandi atau karena memang dekat dengan sungai.
Ah, rasanya ingin ke Semarang lagi.
Berbagi